oleh

Partisipasi Pemilih Pilkada 2020 Ditaksi Tak Capi 80 Persen

INIKATASULTRA.com – Perhelatan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2020 sudah semakin mendekat. Saat ini, penyelenggara maupun peserta mulai disibukkan dengan berbagai persiapan.

Pada Pilkada 2020, partisipasi pemilih diragukan mencapai 80 persen. Alasannya, banyak keluhan yang dialami pemilih. Mulai dari Tempat Pemungutan Suara yang jauh, hingga tidak diakomodasinya satu keluarga dalam satu TPS yang sama.

Anggota Komisi II DPR RI Supriyanto saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan lembaga penyelenggara pemilu di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (2/12) mengatakan, pokok permasalahan yang selama ini dialami penyelenggara pemilu masih seputar pencocokan dan penelitian (coklit) data di lapangan sebelum pesta demokrasi berlangsung.

Terlebih ada sejumlah laporan yang mengatakan jika ada satu keluarga yang memilih di TPS berbeda. Hal ini diyakini sebagai salah satu cara petahana mempertahankan kekuasaannya. Salah satu caranya melibatkan penyelenggara pemilu hingga petugas kependudukan dan pencatatan sipil di daerah.

“Harus ada solusi terkait permasalahan tersebut. Jangan sampai permasalahan yang ada di Pemilu 2019 terulang di Pilkada 2020 mendatang. Satu keluarga jangan dipisah. Kalau bisa dijadikan satu TPS. Begitu juga satu RT. Kalau bisa jangan dipindah ke RT lain,” kata politisi Partai Gerindra tersebut.

Jika ingin biaya murah, lanjutnya, penyelenggaraan pilkada bisa diserahkaan ke DPRD. Ia yakin opsi tersebut sejalan dengan pendiri bangsa Indonesia.

“Paling yang datang ke TPS cuma 60 persen. Karena perlu cari jalan tengah. Kalau sudah, yang murah di pilih di DPRD saja. Karena sesuai dengan sila ke-4 pancasila. Karena pendiri bangsa maunya seperti itu,” bebernya.

Hal senada dilkatakan Anggota Komisi II Muhammad Muraz. Menurutnya, selama penyelenggaraan Pilkada, partisipasi pemilih belum pernah mencapai 80 persen. Ia juga meragukan banyaknya partisipasi pemilih di Pilkada tahun depan.

“Saya rasa pemerintah dan pemerintah daerah harus menyingkronkan dengan penyelenggara pemilu. Agar partisipasi pemilih bisa meningkat,” tukasnya.

Di tempat sama, Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Viryan Aziz mengatakan, pihaknya tengah mencari solusi agar satu keluarga bisa berada dalam satu TPS. Ia juga meyakinkan, tidak ada lagi pemilih yang memilih jauh dari tempat tinggalnya. Pihaknya telah menekankan kepada petugas di lapangan dan penyelenggara pemilu di daerah agar pemilih bisa mendapatkan TPS yang dekat dengan rumah.

“Begitu juga dengan perbatasan. Contohnya desa. Misalnya mereka yang tinggal di perbatasan, tetap akan memilih di wilayah yang masuk kepada desanya tersebut. Karena kita sudah buat sistemnya. Nanti bisa dicek di aplikasi Sidalih. Sistem ini sudah terkunci,” ucapnya.

Viryan meyakini, jika pemilih bisa memilih dengan jarak yang dekat, partisipasi pemilih juga bisa meningkat. Sehingga, harapan penyelenggara pemilu dengan meningkatnya jumlah pemilih pada Pilkada 2020 mendatang bisa tercapai. (FIN/IS)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed